MIMPI TAK TERBATAS : RUMAHKU ISTANAKU

Di sini, dikelelahan jiwa manusia hina
Disisa usia yang semakin membinasa
Merenggut  asa dan berharap pada sang penguasa cinta
Sekedar tetap untuk  berjaga-jaga

Di sini, diperihnya masa lalu yang membayangi
Yang kemudian harus patuh pada kepasrahan hati
Dan menyikapinya secara bijaksana

Di sini, di belantara rasa peperangan diri
Mencoba memandang badai sebagai keindahan ilahi 
Tanpa laknat menguasai diri, Tanpa benci menguasai hati

Di sini, di gubuk ini
Istana kami
Tempat bermula semua sejarah tentang kami
Suka duka di hati
Semua ada di sini
Di istana kami

 

Keluarga kami tinggal disebuah gubuk sederhana yang memiliki struktur bangunan yang tidak permanen. Sebagian atapnya terbuat dari seng dan sebagian yang lain masih terbuat dari dahan nipah yang tentu saja masih sangat mudah untuk didapatkan di desa kami. Lantai rumah kami sebagian masih terbuat dari plesteran semen biasa dengan tambahan acian di atasnya sehingga tampak halus dan rapi. Sementara bagian dapur hingga kamar mandi masih terbuat dari lantai berbahan dasar tanah asli. Seringkali ketika hujan datang dan atap rumah kami bocor, membuat air hujan dengan mudah membanjiri seluruh lantai dan akhirnya lantai rumah kami tampak seperti jalan setapak yang dipenuhi dengan lumpur coklat yang kental.

Dinding rumah kami masih terbuat dari gedek yang sangat mudah terbakar. Gedek adalah susunan papan yang telah disusun sedemikian rupa sehingga dapat digunakan sebagai dinding untuk bangunan rumah tinggal. Terus terang keluarga kami memang tidak memiliki cukup dana untuk membangun rumah tinggal yang layak. Jangankan untuk mendirikan sebuah rumah tinggal yang layak huni, untuk sekedar makan saja kami seringkali harus berhutang pada tetangga. Beruntung kami masih memiliki tetangga-tetangga yang sangat memahami penderitaan hidup yang kami alami.

Saat ada makanan berlebih, para tetangga sekitar seringkali membagikan makanan ke rumah kami dan tentu saja dengan cuma-cuma alias gratis. Jujur, saat fenomena alam itu terjadi, aku beserta kedua adikku adalah sosok manusia yang paling berbahagia pada saat itu. Moment penting itu membuat diri kami merasa seakan menjadi raja yang paling berkuasa di muka bumi. Kami merasa seakan dikelilingi oleh dayang-dayang yang siap melayani kami, siap mengantarkan hidangan lezat untuk kami santap dan pada akhirnya.

“Fa…Daffa…!!! Ayo makan, yeee malah senyum-senyum aja” suara ibu memangilku sembari menepuk bahuku.

“Eh iya mak” jawabku sambil agak kaget.

“Ngelamuni opo toh, sini loh makan, mbak Saroh ngasi makanan ni lo” sahut ibu sambil mengajakku bergabung untuk segera makan.

“Iya mak” Jawabku sambil jalan mendekati ibuku.

Eh, ternyata yang barusan itu hanya sebuah imajinasiku semata, hehehehehehehe. Yah begitulah, meski hanya makanan sederhana pemberian dari tetangga, tapi hal itu membuat kami sekeluarga sangat bahagia.

            Oh iya, desa tempat kami tinggal memang berada di dataran pulau Sulawesi, tapi sebagian besar masyarakat di desa kami berasal dari suku jawa, sunda, dan juga bali. Hal itu dikarenakan desa kami adalah desa dengan penduduk masyarakat transmigrasi dari pulau jawa dan juga bali, dengan kata lain kami semua yang ada di desa ini adalah pendatang. Sedangkan untuk masyarakat asli, mereka tinggal di desa yang lain yang memang sudah ada sejak sebelum kami datang. Meski berbeda-beda suku, kami semua bisa hidup rukun tanpa ada saling sindir apalagi sampai rasisme. Jadi tidak heran, kalau kebanyakan masyarakat di desa kami berkomunikasi menggunakan bahasa daerah yang berbeda-beda.

            Meski rumah kami terbilang sangat kecil dan begitu sederhana, tapi sungguh demi Allah, hati kecil kami tidak pernah lupa untuk terus bersyukur kepada-Nya. Allah yang telah mengaruniakan nikmat hidup tanpa batas kepada kami. Sungguh, karena kebesaran Allah-lah, hingga detik ini kami masih sanggup untuk menghirup oksigen secara gratis, disaat banyak manusia lain yang justru hidupnya harus ditopang oleh tabung oksigen yang harganya setinggi langit. Kami masih bisa minum air gratis, disaat manusia yang lain sangat kesulitan untuk mencari sumber air bersih. Kami diberikan fisik tanpa cacat, kedua mata yang dengannya kami bisa melihat setiap warna indah yang kami suka, kedua telinga yang dengannya kami mampu mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an, lisan yang dengannya kami mampu berkata lembut dan berzdikir kepada-Nya, lidah yang dengannya kami bisa merasakan nikmat dari setiap makanan yang masuk ke dalam mulut kami, hati yang masih berfungsi dengan baik yang dengannya kami mampu merasakan rasa sakit orang lain, dan juga masih banyak nikmat hidup lainnya yang bahkan jika seluruh flashdisk di muka bumi ini dikumpulkan menjadi satu pun masih tak akan pernah sanggup untuk menyimpan data-data penting itu.

Yap, setidaknya kami masih lebih beruntung jika dibandingkan dengan mereka yang hidupnya selalu berada di jalanan, tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit. Kala hujan melanda, mereka tak punya tempat untuk berlindung, sehingga harus memaksakan diri untuk mencari perlindungan di tempat-tempat yang mereka anggap aman dan nyaman, baik itu di emperan-emperan toko bahkan sampai di bawah jembatan sekalipun. Saat terik panas matahari begitu menyengat seakan mampu meluluh lantahkan kulit, mereka pun harus bersusah payah mencari tempat berlindung sekedar untuk berteduh dan melepas peluh. Tak jarang mereka harus diusir dan mendapat perlakuan kasar dari si pemilik tempat yang tempatnya mereka jadikan lahan untuk berteduh sementara itu. Sungguh kami masih jauh lebih beruntung jika dibandingkan dengan mereka. Bukankah Allah Azza wa jalla telah berfirman di dalam Al-Qur’anul Karim:

“Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih". (QS. Ibrahim (14) : 7)

Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam pun telah berpesan kepada kita semua umat manusia, “Lihatlah siapa yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Sebab yang demikian itu lebih patut agar kalian tidak memandang remeh nikmat Allah Ta’ala atas kalian. (Muttafaq Alaihi)

Satu lagi yang kami patut syukuri adalah bahwa gubuk yang kami tinggali saat ini dapat berdiri di atas lahan milik kami sendiri. Hal itu dikarenakan tanah yang kami miliki saat ini adalah hasil dari pemberian pemerintah melalui program transmigrasi beberapa tahun silam. Jadi, kami tidak perlu khawatir jika suatu saat kelak akan terjadi penggusuran atau kasus sengketa lahan lainnya.

            Bangunan rumah kami yang terbilang kecil itu membuat pekarangan rumah kami masih tampak luas. Yap, boleh di katakan pekarangan rumah kami sudah lebih dari cukup jika hanya digunakan untuk sekedar membangun dua lapangan bola volly. Tak jarang anak-anak tetangga berkunjung ke rumah kami. yah, meski pun mereka hanya sekedar bermain berlarian bersama teman-teman mereka di pekarangan rumah kami yang luas itu. Mereka sangat menyukainya. Ada kalanya aku dan kedua adikku pun ikut bermain bersama mereka. Ditambah lagi aku memiliki seorang ibu yang sangat mencintai tanaman. Sangking cintanya ibu terhadap tanaman, membuatku seringkali merasa cemburu karena terkadang ibu lebih mencintai tanamannya ketimbang diriku selaku anak kandungnya.

Ibu selalu memanfaatkan pekarangan rumah kami untuk bercocok tanam, mulai dari sayur mayur yang bisa dipanen saat kami tidak mampu untuk membeli persediaan makanan di pasar, tanaman obat, sampai bunga-bunga yang tampak cantik dengan berbagai macam ragam warna.

Pernah suatu ketika dengan tidak sengaja aku mematahkan satu tangkai daun dari salah satu koleksi tanaman bunga milik ibu, dan sialnya ibu berada di tempat kejadian perkara saat itu. Tanpa harus menunggu waktu lama, ibu memanggilku.

Daffa, sini nak...!!!” kata ibu padaku dengan mimik wajah senyum penuh kepalsuan.

“Mampus aku....” kataku sambil bercucuran keringat dingin.

Aku pun menghampiri ibu dengan penuh ekspresi keputus asaan seakan aku merasa dunia ini telah berakhir dan tak ada lagi hari esok untukku, ini sih lebay ya.

Daffa, anak ibu yang ganteng...duduk sini nak”...kata ibu dengan bahasa yang lembut namun beracun.

Ibu menyuruhku untuk duduk manis dihadapannya, dan tentu saja sudah bisa ditebak fenomena apa yang akan terjadi selanjutnya. Suasana bermain telah berubah menjadi sebuah ketegangan. Aku merasa bagaikan tengah berada di medan perang. Berbagai macam perkataan ibu lontarkan dengan intonasi yang cepat dan nada yang tidak bersahabat. Ibu dan anak telah saling berganti peran, seperti musuh yang tengah berhadapan. Namun sangat tidak seimbang, sama seperti nabi daud melawan raksasa jalud.

            Dua jam saja berhadapan dengan kemarahan ibu, itu sudah cukup membuat bulu kuduku bergidik. Akhirnya peperangan itu selesai, sementara aku dengan raut wajah yang pucat melihat ibuku dengan wajah sumringah puas dengan kemarahannya. Sedangkan ayah dan kedua adikku malah asyik mentertawakanku.

            “Makanya lain kali kalau main ya hati-hati, udah tau watak mamakmu kayak gitu, eh malah cari gara-gara, ya ini akibatnya hahahahaha…!!!! manttaaaappppp” Kata ayah sambil menertawakanku.

            “Tapi yo ra popo pak, lumayan gae hiburan….hahahahahaha..!!!” Imbuh si Haidar sambil ketawa sejadi-jadinya.

Akhirnya, aku pun hanya berlalu sambil menahan rasa sebel akibat ledekan ayah dan kedua adikku itu.

Tak hanya itu, halaman rumah kami yang terbilang luas itu pun ditumbuhi dengan tanaman rumput jepang yang membuatnya tampak lebih asri seperti taman hijau yang menyejukkan. Yah, setidaknya bisa menyamarkan mirisnya bangunan rumah kami yang.....emmhhhhh yah begitulah pokoknya....ngerti sendiri maksudnya kan hehehehehehe.

 

**********

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MIMPI TAK BERTEPI : PROLOG