MIMPI TAK TERBATAS : RUMAHKU ISTANAKU
Keluarga kami tinggal
disebuah gubuk sederhana yang memiliki struktur bangunan yang tidak permanen.
Sebagian atapnya terbuat dari seng dan sebagian yang lain masih terbuat dari
dahan nipah yang tentu saja masih sangat mudah untuk didapatkan di desa kami. Lantai rumah kami
sebagian masih terbuat dari plesteran semen biasa dengan tambahan acian di
atasnya sehingga tampak halus dan rapi. Sementara bagian dapur hingga
kamar mandi masih terbuat dari lantai berbahan dasar tanah asli. Seringkali ketika hujan
datang dan atap rumah kami bocor, membuat air hujan dengan mudah membanjiri
seluruh lantai dan akhirnya lantai rumah kami tampak seperti jalan setapak yang
dipenuhi dengan lumpur coklat yang kental.
Dinding rumah kami masih terbuat dari gedek yang sangat mudah terbakar. Gedek adalah
susunan papan yang telah disusun sedemikian rupa sehingga dapat digunakan sebagai dinding untuk
bangunan rumah tinggal. Terus terang keluarga kami memang tidak memiliki cukup dana untuk membangun rumah
tinggal yang layak. Jangankan untuk mendirikan sebuah rumah tinggal yang layak
huni, untuk sekedar makan saja kami seringkali harus berhutang pada tetangga. Beruntung kami masih memiliki tetangga-tetangga yang sangat memahami penderitaan hidup
yang kami alami.
Saat ada makanan berlebih, para tetangga
sekitar seringkali membagikan
makanan ke rumah kami dan tentu saja dengan cuma-cuma alias gratis. Jujur,
saat fenomena alam itu terjadi, aku beserta kedua adikku adalah sosok manusia
yang paling berbahagia pada saat itu. Moment penting itu membuat diri kami
merasa seakan menjadi raja yang paling berkuasa di muka bumi. Kami merasa seakan dikelilingi oleh
dayang-dayang yang siap melayani kami, siap mengantarkan hidangan lezat untuk
kami santap dan pada akhirnya.
“Fa…Daffa…!!! Ayo makan,
yeee malah senyum-senyum aja” suara ibu memangilku
sembari menepuk bahuku.
“Eh iya mak”
jawabku sambil agak kaget.
“Ngelamuni opo toh, sini loh makan, mbak
Saroh ngasi makanan ni lo” sahut ibu sambil mengajakku bergabung
untuk segera makan.
“Iya mak”
Jawabku sambil jalan mendekati ibuku.
Eh, ternyata yang barusan
itu hanya sebuah imajinasiku semata, hehehehehehehe. Yah begitulah, meski hanya
makanan sederhana pemberian dari tetangga, tapi hal itu membuat kami sekeluarga
sangat bahagia.
Oh iya, desa tempat kami tinggal memang berada di dataran
pulau Sulawesi, tapi sebagian besar masyarakat di desa kami berasal dari suku
jawa, sunda, dan juga bali. Hal itu dikarenakan desa kami adalah desa dengan
penduduk masyarakat transmigrasi dari pulau jawa dan juga bali, dengan kata
lain kami semua yang ada di desa ini adalah pendatang. Sedangkan untuk
masyarakat asli, mereka tinggal di desa yang lain yang memang sudah ada sejak
sebelum kami datang. Meski berbeda-beda suku, kami semua bisa hidup rukun tanpa
ada saling sindir apalagi sampai rasisme. Jadi tidak heran, kalau kebanyakan
masyarakat di desa kami berkomunikasi menggunakan bahasa daerah yang
berbeda-beda.
Meski rumah kami terbilang sangat kecil dan begitu sederhana, tapi sungguh demi Allah,
hati kecil kami tidak pernah lupa untuk terus bersyukur kepada-Nya. Allah yang
telah mengaruniakan nikmat hidup tanpa batas kepada kami. Sungguh, karena
kebesaran Allah-lah, hingga detik ini kami masih sanggup untuk menghirup
oksigen secara gratis, disaat banyak
manusia lain yang justru hidupnya
harus ditopang oleh tabung oksigen yang harganya setinggi langit. Kami masih
bisa minum air gratis, disaat manusia yang lain sangat kesulitan untuk mencari
sumber air bersih. Kami diberikan fisik tanpa cacat, kedua mata yang dengannya
kami bisa melihat setiap warna indah yang kami suka, kedua telinga yang
dengannya kami mampu mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an, lisan yang
dengannya kami mampu berkata lembut dan berzdikir kepada-Nya, lidah yang
dengannya kami bisa merasakan nikmat dari setiap makanan yang masuk ke dalam
mulut kami, hati yang masih berfungsi dengan baik yang dengannya kami mampu
merasakan rasa sakit orang lain, dan juga masih banyak nikmat hidup lainnya
yang bahkan jika seluruh flashdisk
di muka bumi ini dikumpulkan menjadi satu pun masih tak akan pernah sanggup
untuk menyimpan data-data penting itu.
Yap, setidaknya kami masih lebih beruntung jika dibandingkan
dengan mereka yang hidupnya selalu berada di jalanan, tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit. Kala hujan melanda, mereka tak
punya tempat untuk berlindung, sehingga harus memaksakan diri untuk mencari perlindungan di tempat-tempat yang mereka
anggap aman dan nyaman, baik itu di
emperan-emperan toko bahkan sampai di bawah jembatan sekalipun. Saat terik
panas matahari begitu menyengat seakan
mampu meluluh lantahkan kulit, mereka pun harus bersusah
payah mencari tempat berlindung sekedar untuk berteduh dan melepas peluh. Tak
jarang mereka harus diusir dan mendapat perlakuan kasar dari si pemilik tempat
yang tempatnya mereka jadikan lahan untuk
berteduh sementara itu. Sungguh kami masih jauh lebih beruntung jika dibandingkan dengan
mereka. Bukankah Allah Azza wa jalla telah berfirman di
dalam Al-Qur’anul Karim:
“Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu
memaklumkan,
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku
akan menambah (nikmat) kepadamu, dan tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku
sangatlah
pedih". (QS.
Ibrahim (14) : 7)
Rasulullah
Shalallahu’alaihi wa sallam pun telah berpesan kepada kita semua umat manusia, “Lihatlah siapa yang berada di bawah
kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Sebab yang demikian
itu lebih patut agar kalian tidak memandang remeh nikmat Allah Ta’ala atas
kalian.” (Muttafaq Alaihi)
Satu
lagi yang kami patut syukuri adalah bahwa gubuk
yang kami tinggali saat ini
dapat berdiri di atas lahan milik kami
sendiri. Hal itu dikarenakan tanah yang kami miliki saat ini adalah hasil dari
pemberian pemerintah melalui program transmigrasi beberapa tahun silam. Jadi,
kami tidak perlu khawatir jika suatu saat kelak akan terjadi penggusuran atau
kasus sengketa lahan lainnya.
Bangunan rumah kami yang terbilang kecil itu membuat
pekarangan rumah kami masih tampak luas. Yap, boleh di katakan pekarangan rumah
kami sudah lebih dari cukup jika hanya digunakan untuk sekedar membangun dua
lapangan bola volly. Tak jarang anak-anak tetangga
berkunjung ke rumah kami. yah, meski pun mereka hanya sekedar bermain berlarian
bersama teman-teman mereka di pekarangan rumah kami yang luas itu. Mereka sangat menyukainya. Ada kalanya aku dan kedua adikku pun
ikut bermain bersama mereka. Ditambah lagi aku memiliki seorang ibu yang sangat
mencintai tanaman. Sangking cintanya ibu terhadap tanaman, membuatku seringkali
merasa cemburu karena terkadang ibu lebih mencintai tanamannya ketimbang diriku
selaku anak kandungnya.
Ibu selalu memanfaatkan pekarangan rumah kami untuk
bercocok tanam, mulai dari sayur mayur yang bisa dipanen saat kami tidak mampu
untuk membeli persediaan makanan di pasar, tanaman obat, sampai bunga-bunga
yang tampak cantik dengan berbagai macam ragam warna.
Pernah suatu ketika dengan tidak sengaja aku mematahkan
satu tangkai daun dari salah satu koleksi tanaman bunga milik ibu, dan sialnya
ibu berada di tempat kejadian perkara saat itu. Tanpa
harus menunggu waktu lama, ibu memanggilku.
“Daffa, sini nak...!!!” kata ibu padaku dengan
mimik wajah senyum penuh kepalsuan.
“Mampus aku....” kataku sambil bercucuran keringat dingin.
Aku
pun menghampiri ibu dengan penuh ekspresi keputus asaan seakan aku merasa dunia
ini telah berakhir dan tak ada lagi hari esok untukku, ini sih lebay ya.
“Daffa, anak ibu yang ganteng...duduk sini nak”...kata
ibu dengan bahasa yang lembut namun
beracun.
Ibu
menyuruhku untuk duduk manis dihadapannya, dan tentu saja sudah bisa ditebak
fenomena apa yang akan terjadi selanjutnya. Suasana bermain telah berubah
menjadi sebuah ketegangan. Aku
merasa bagaikan tengah berada di
medan perang. Berbagai macam perkataan ibu lontarkan dengan intonasi yang cepat
dan nada yang tidak bersahabat. Ibu dan anak telah saling berganti peran,
seperti musuh yang tengah berhadapan. Namun sangat tidak seimbang, sama seperti
nabi daud melawan raksasa jalud.
Dua jam saja berhadapan dengan kemarahan ibu, itu sudah
cukup membuat bulu kuduku bergidik. Akhirnya peperangan itu selesai, sementara
aku dengan raut wajah yang pucat melihat ibuku dengan wajah sumringah puas
dengan kemarahannya. Sedangkan ayah dan kedua adikku malah asyik
mentertawakanku.
“Makanya lain kali
kalau main ya hati-hati, udah tau watak mamakmu kayak gitu, eh malah cari
gara-gara, ya ini akibatnya hahahahaha…!!!! manttaaaappppp” Kata ayah
sambil menertawakanku.
“Tapi yo ra popo
pak, lumayan gae hiburan….hahahahahaha..!!!” Imbuh si Haidar sambil ketawa
sejadi-jadinya.
Akhirnya, aku pun hanya
berlalu sambil menahan rasa sebel akibat ledekan ayah dan kedua adikku itu.
Tak
hanya itu, halaman rumah kami yang terbilang luas itu pun ditumbuhi dengan
tanaman rumput jepang yang membuatnya tampak lebih asri seperti taman hijau
yang menyejukkan. Yah, setidaknya bisa menyamarkan mirisnya bangunan rumah kami
yang.....emmhhhhh yah begitulah pokoknya....ngerti sendiri maksudnya kan hehehehehehe.
**********
Komentar
Posting Komentar