MIMPI TAK TERBATAS : NAMAKU DAFFA

Setapak demi setapak kaki ini melangkah
Menyusuri setiap bait perjalanan hidupku
Tertatih oleh kerasnya nilai sebuah hidup
Terhanyut dalam derasnya air mata kesedihan 
Meski tubuh ini tau akan terluka tetapi ia tetap melangkah 

Ia tau kalau jurang telah di depan mata
Namun enggan membuka mata bila ia telah menapaki
Cepat atau lambat jurang itu akan ia temui
Suka atau tidak Suka, Kuat atau kah lemah
Untuk sebuah perjuangan hidup ia tidak pernah memandang 

Kini kaki setapak itu telah melangkah
Menyusuri dan merasakan rasa sakit
Tubuhnya telah memilih untuk tersakiti
Meski ia tau itu bukan jalan yang ia inginkan

Harapannya punah, mimpinya tinggal dalam hati
Menggenggam tangannya erat berharap ia agar tetap kuat 

Ia berusaha menahan tangan kasar itu dari rasa sakit
Rasa sakit sebab timbunan kebohongan
Kejujuran akan perasaan ia sembunyikan
Meski lautan amarah dan duka dihati telah menanti

Berusaha bangkit  setiap kali ia jatuh
Bak nelayan yang lupa dermaga tempat ia singgah
Hidupnya hilang arah terbawa angin
Menghilang bersama ombak yang datang
Tertiup bersama angin laut yang berlayar
Namun ia terus berjuang dan berjuang


Yah, kurang lebih seperti itulah bait-bait syair puisi yang sempat ku baca dari sebuah artikel dunia maya semenjak beberapa tahun silam. Jujur, bukan seperti itu naskah aslinya. Aku tidak begitu ingat dan tidak begitu mengenal siapa penulis aslinya dan bahkan aku tidak tahu sama sekali tentang siapa penulisnya. Jangankan tentang penulisnya seperti apa, nama penulisnya pun aku tak tahu. Tapi yang jelas, bait-bait tersebut aku rasa lebih dari cukup untuk sekedar memberi sedikit gambaran tentang seperti apa kerasnya jalan hidup yang aku tempuh selama ini.

Pagi itu burung-burung kecil tampak begitu bahagia. Mereka berkicauan di atas ranting-ranting pohon di pekarangan rumahku. Beberapa diantara mereka tampak asyik beterbangan tak ubahnya seperti anak-anak kecil yang tengah bermain kejar-kejaran seakan tak pernah memiliki beban. Mentari pagi pun tak mau kalah rupanya. Dengan sengaja ia memamerkan cahayanya yang begitu terang menyilaukan, seakan memberikan pesan indah kepada seluruh bumi bahwa dirinya telah kembali setelah sekian lama sang rembulan menggantikan kehadirannya di tengah kegelapan malam.

Di beranda gubuk yang sederhana itu. Ku palingkan pandanganku ke arah langit. menatap sayu birunya atmosfir pada saat itu. Berusaha tetap tersenyum menghadapi pahitnya kenyataan hidup yang terkadang tanpa ku sadari mampu membuat diri ini lupa bahwa sesungguhnya aku tak pernah sendiri. Yah, aku memang tak pernah sendiri, selalu ada Allah Azza wa jalla yang senantiasa selalu menemani langkah kaki ini. Disaat tubuh ini mulai lelah dan kehilangan arah, Allah adalah satu-satunya penolong untukku, satu-satunya dan sebaik-baik obat kesedihan untuk hati yang pilu. Sebagaimana Allah Azza wa jalla telah menolong Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam dan membuat hati beliau menjadi tenang tanpa sesal.

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari mekah), sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam goa, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”, maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah mahaperkasa, mahabijaksana.” (QS. At-Taubah (9) : 40)

            Hidup ini seperti sederetan kata-kata yang hanya bisa menyisakan beberapa spasi. Terkadang kita butuh koma untuk mengistirahatkan langkah kaki ini. Seringkali juga muncul tanda tanya disaat kita tengah kehilangan arah. Sesekali ia juga dapat menghadirkan tanda seru ketika kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita mimpikan. Kita sadar bahwa perjalanan ini seringkali membutuhkan peta dan catatan yang senantiasa memberi petunjuk sebagai evaluasi jalan kita agar kita kelak tidak tersesat. Tapi yakinlah dari semua itu bahwa titik bukanlah akhir dari segalanya, karena sesungguhnya masih ada banyak kalimat yang harus kita untai menjadi lembar-lembar kehidupan yang indah.

Yap, seperti itulah nasehat dari seorang kak Vita yang ku dapatkan dalam sebuah artikel di sebuah laman internet beberapa waktu lalu, dan tentu saja itu adalah sebuah paragraf indah untuk mereka yang jelas-jelas nyaris kehilangan api semangatnya. Yah, mereka adalah orang-orang sepertiku. Tapi, kini ku sadari bahwa disaat jiwa kita berontak, disaat hati kita selalu mengeluh atas hidup yang kita jalani. Percayalah, bahwa di luar sana masih banyak sosok manusia yang sangat mengharapkan hidup seperti apa yang kita miliki.

 

**********

           

Namaku Daffa, Abil Daffa Muwaffaq lengkapnya. Saat ini usiaku telah genap 18 tahun. Aku lahir di tengah-tengah keluarga yang sangat sederhana dan bahkan jauh dari kata kaya. Yap, sangat jauh dari kata kaya. Tapi, kalau ada yang mau mengatakan bahwa aku ini miskin, boleh juga sih dan itu tidak menjadi masalah untukku.

Aku tinggal di sebuah rumah yang cukup kecil di sebuah desa yang bisa terbilang sudah cukup berkembang pada masa itu. Tirtakencana, itulah nama desaku. Sebuah desa yang terletak di dataran tanah Sulawesi Tengah, di kabupaten Banggai, kecamatan Toili lebih tepatnya. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku dan juga kedua saudara-saudariku. Aku memiliki seorang ibu yang ku anggap ia adalah wanita paling perkasa yang pernah lahir di muka bumi. Yah, para tetangga kami biasa akrab memanggilnya dengan nama mbak Tati. Aku juga memiliki seorang ayah. Bagiku ayah adalah seseorang yang memiliki level kesabaran tingkat tinggi. Pak Tres, demikianlah para tetangga kami memanggil nama ayahku. Sosok yang sangat sederhana, rendah hati, dan tak pernah tergiur dengan kenikmatan duniawi yang sejatinya hanyalah sebuah ilusi. Ibuku adalah bidadari tanpa sayap, sedangkan ayahku adalah raja tanpa mahkota. Mungkin seperti itulah julukan yang paling pantas untuk kedua orang besar yang luar biasa itu.

            Aku sendiri adalah anak paling sulung diantara kedua saudaraku. Aku memiliki adik laki-laki yang bernama Haidar. Haidar berusia enam tahun lebih muda jika dibandingkan dengan diriku. Meski kami kerap kali bertengkar, tapi disitulah letak keakraban hubungan kami berdua. Aku juga memiliki seorang adik perempuan yang panggil saja namanya Syifa. Dialah yang paling bungsu diantara kami bertiga. Seorang gadis cilik pelipur lara yang memiliki pipi tembem dan lesung dikedua pipinya membuatnya nampak semakin manis saat sedang tersenyum. Seringkali aku mencubit kedua pipi adikku itu hanya karena alasan gemes atau sekedar iseng saja kalau-kalau kambuh penyakit jahil dalam jiwaku. Syifa adalah gadis cilik yang memiliki usia lima tahun lebih muda dari usia Haidar. Bagiku mereka berdua bukan hanya sekedar saudara kandung biasa, melainkan adalah sahabat sejati yang selalu setia menemani disaat hati ini merasa sendiri dalam ruang gelap yang sunyi.

Yap, demikianlah sedikit perkenalan singkat tentang siapa aku, dari mana asalku, dan seperti itulah adanya diriku. Aku adalah aku, aku bukan dia, dan aku bukanlah mereka. Sampai kapan pun juga aku tak akan pernah bisa menjadi seperti mereka. Karena Aku adalah diriku sendiri. Aku adalah Daffa. Yah, namaku Abil Daffa Muwaffaq .

 

**********

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MIMPI TAK BERTEPI : PROLOG