MIMPI TAK TERBATAS : NAMAKU DAFFA
Yah, kurang
lebih seperti itulah bait-bait syair puisi yang sempat ku baca dari sebuah
artikel dunia maya semenjak beberapa tahun silam. Jujur, bukan seperti itu naskah
aslinya. Aku
tidak begitu ingat dan tidak begitu mengenal siapa
penulis aslinya dan bahkan aku tidak tahu sama sekali tentang siapa penulisnya. Jangankan
tentang penulisnya seperti apa, nama penulisnya pun aku tak tahu. Tapi yang
jelas, bait-bait tersebut aku rasa lebih dari cukup untuk sekedar memberi
sedikit gambaran
tentang seperti apa kerasnya jalan hidup yang aku tempuh selama ini.
Pagi itu burung-burung kecil tampak begitu bahagia. Mereka
berkicauan di atas ranting-ranting pohon di pekarangan rumahku. Beberapa
diantara mereka tampak asyik beterbangan tak ubahnya seperti anak-anak kecil
yang tengah bermain kejar-kejaran seakan tak pernah memiliki beban. Mentari
pagi pun tak mau kalah
rupanya. Dengan
sengaja ia memamerkan cahayanya yang begitu terang menyilaukan,
seakan memberikan pesan indah kepada seluruh bumi bahwa dirinya telah kembali
setelah sekian lama sang rembulan menggantikan kehadirannya di tengah kegelapan
malam.
Di beranda gubuk yang sederhana itu. Ku palingkan
pandanganku ke arah langit. menatap sayu birunya atmosfir pada saat itu. Berusaha tetap
tersenyum menghadapi pahitnya kenyataan hidup yang terkadang tanpa ku sadari
mampu membuat diri ini lupa bahwa sesungguhnya aku tak pernah
sendiri. Yah, aku memang tak pernah sendiri, selalu ada Allah Azza wa jalla yang senantiasa selalu menemani
langkah kaki ini. Disaat tubuh ini mulai lelah dan kehilangan arah, Allah
adalah satu-satunya penolong untukku, satu-satunya dan sebaik-baik obat
kesedihan untuk hati yang pilu. Sebagaimana Allah Azza wa jalla telah menolong Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam dan membuat hati beliau
menjadi tenang tanpa sesal.
“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah
menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari mekah), sedang
dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam goa, ketika itu
dia berkata kepada sahabatnya, “jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah
bersama kita”, maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan
membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu,
dan dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah
yang tinggi. Allah mahaperkasa, mahabijaksana.” (QS. At-Taubah (9) :
40)
Hidup ini seperti
sederetan kata-kata yang hanya bisa menyisakan beberapa spasi. Terkadang kita
butuh koma untuk mengistirahatkan langkah kaki ini. Seringkali juga muncul
tanda tanya disaat kita tengah kehilangan arah. Sesekali ia juga dapat
menghadirkan tanda seru ketika kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita
mimpikan. Kita sadar bahwa perjalanan ini seringkali membutuhkan peta dan
catatan yang senantiasa memberi petunjuk sebagai evaluasi jalan kita agar kita
kelak tidak tersesat. Tapi yakinlah dari semua itu bahwa titik bukanlah akhir
dari segalanya, karena sesungguhnya masih ada banyak kalimat yang harus kita untai menjadi
lembar-lembar kehidupan yang indah.
Yap, seperti itulah nasehat dari seorang kak
Vita yang ku dapatkan dalam sebuah artikel di sebuah laman internet beberapa
waktu lalu, dan tentu saja itu adalah sebuah paragraf indah untuk mereka yang
jelas-jelas nyaris kehilangan api semangatnya. Yah,
mereka adalah orang-orang sepertiku. Tapi, kini ku sadari bahwa disaat jiwa
kita berontak, disaat hati kita selalu mengeluh atas hidup yang kita jalani.
Percayalah, bahwa di luar sana masih banyak sosok manusia yang sangat
mengharapkan hidup seperti apa yang kita miliki.
**********
Namaku Daffa, Abil Daffa Muwaffaq lengkapnya. Saat ini usiaku telah genap 18 tahun. Aku
lahir di tengah-tengah keluarga yang sangat sederhana dan bahkan jauh dari kata
kaya. Yap, sangat jauh dari kata kaya. Tapi, kalau ada
yang mau mengatakan bahwa
aku ini miskin, boleh juga sih dan itu tidak menjadi masalah
untukku.
Aku tinggal di sebuah rumah yang cukup kecil
di sebuah desa yang bisa terbilang sudah cukup berkembang
pada masa itu. Tirtakencana, itulah nama desaku. Sebuah desa yang terletak di dataran tanah Sulawesi
Tengah, di kabupaten Banggai, kecamatan Toili lebih tepatnya. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku dan juga kedua saudara-saudariku. Aku
memiliki seorang ibu yang ku anggap ia adalah wanita paling perkasa yang pernah
lahir di muka bumi. Yah, para tetangga kami biasa akrab memanggilnya dengan
nama mbak Tati. Aku juga memiliki seorang ayah. Bagiku ayah
adalah seseorang yang memiliki level kesabaran tingkat tinggi. Pak Tres,
demikianlah para tetangga kami memanggil nama ayahku. Sosok yang
sangat sederhana, rendah hati, dan tak pernah tergiur dengan kenikmatan duniawi
yang sejatinya hanyalah sebuah ilusi. Ibuku adalah bidadari tanpa sayap,
sedangkan ayahku adalah raja tanpa mahkota. Mungkin seperti itulah julukan yang
paling pantas untuk kedua orang besar yang luar biasa itu.
Aku sendiri
adalah anak paling sulung diantara kedua saudaraku. Aku memiliki adik laki-laki yang
bernama Haidar. Haidar berusia enam tahun lebih muda jika dibandingkan dengan
diriku. Meski kami kerap kali bertengkar, tapi disitulah letak keakraban
hubungan kami berdua. Aku juga memiliki seorang adik perempuan yang panggil saja namanya Syifa. Dialah
yang paling bungsu diantara kami bertiga. Seorang
gadis cilik pelipur lara yang memiliki pipi tembem dan lesung dikedua pipinya membuatnya nampak semakin
manis saat sedang tersenyum. Seringkali aku
mencubit kedua pipi adikku itu hanya karena alasan gemes atau sekedar iseng
saja kalau-kalau kambuh penyakit jahil dalam jiwaku. Syifa adalah gadis cilik
yang memiliki usia lima tahun lebih muda dari usia Haidar. Bagiku mereka berdua
bukan hanya sekedar saudara kandung biasa, melainkan adalah sahabat sejati yang
selalu setia menemani disaat hati ini merasa sendiri dalam ruang gelap yang sunyi.
Yap, demikianlah sedikit perkenalan singkat tentang siapa aku, dari mana asalku, dan seperti itulah adanya diriku. Aku
adalah aku, aku bukan dia, dan aku bukanlah mereka. Sampai kapan pun juga aku tak akan
pernah bisa menjadi seperti mereka. Karena Aku adalah diriku sendiri. Aku
adalah Daffa. Yah, namaku Abil Daffa Muwaffaq .
**********
Komentar
Posting Komentar